Berita Kota

Tiga Hari, Puluhan Hektar Lahan Terbakar di Bontang

kebakaran lahan di bontang lestari (foto:yuli)
kebakaran lahan di bontang lestari (foto:yuli)

Bontang. Sejak Januari 2019 hingga 4 Maret 2019 tercatat sudah sebanyak 25 kebakaran terjadi di kota taman. Untuk kebakaran lahan sudah terdapat sebanyak 18 titik lokasi. Pada Selasa, (5/3/2019) juga terjadi tiga titik lokasi kebakaran lahan di Jalan Soekarno Hatta Bontang Lestari. Bahkan pada Minggu, (3/3) dan Senin (4/3) lalu kebakaran lahan juga terjadi di empat dan tiga titik sekaligus. Sehingga pada bulan Maret ini sudah terdapat 10 kebakaran lahan di kota taman.

Suhu udara di Bontang yang mengalami kenaikan yang cukup ekstrim pun diduga menjadi salah satu pemicu kebakaran lahan. Normalnya suhu udara mencapai 28 derajat celcius, belakangan suhu Bontang bisa mencapai 31-35 derajat celcius.  Hal itu tentu membuat percikan api kecil bisa cepat membesar membakar lahan ataupun hutan di wilayah Bontang Lestari. Hal tersebut diungkapkan oleh kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ahmad Yani.

Menurutnya, kebakaran lahan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut ini telah menghanguskan puluhan hektar lahan.

“Kebakaran tiga lahan yang terjadi pada Selasa kemarin di jalan Soekarno Hatta, menghanguskan sebanyak 5 hektar lahan di kawasan Bontang Lestari,” ungkapnya.

Untuk itu Ahmad Yani kepala BPBD menghimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan membuang puntung rokok ataupun membakar sampah. Pasalnya cuaca panas yang cukup ekstrim membuat potensi terjadinya kebakaran lebih besar.

“Cuaca panas yang cukup ekstrim membuat potensi terjadinya kebakaran lebih besar,” kata Ahmad Yani.

Untuk diketahui, kebakaran pada bulan Januari tercatat 8 kebakaran yang 2 diantaranya merupakan kebakaran lahan, sementara pada Februari sebanyak 7 kasus yang 6 diantaranya juga merupakan kebakaran lahan. Data tersebut berdasarkan data dari dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan yang melakukan penanganan terhadap kebakaran tersebut dibantu oleh BPBD Bontang. (*)

 

Laporan: Yulianti Basri

Click to comment
To Top