Pendidikan

Kasman Purba Bantah Tudingan Guru Terhadapnya

Kepala SMK Negeri 1 Bontang Kasman Purba (Foto: Yuli)

Bontang. Menanggapi adanya mosi tidak percaya yang dialamatkan padanya, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Bontang Kasman Purba, yang telah menjabat sejak tahun 2014 lalu membantah semua tudingan yang dilayangkan para guru tersebut.

Menurutnya, apa yang ia lakukan sudah sesuai dengan prosedur pengelolaan sekolah berdasarkan aturan. Terkait absensi jadwal masuk yang disoal, ia mengatakan hal tersebut berawal dari rencana pencairan tunjangan profesi yang akan dilakukan pada akhir Maret 2017 oleh Pemerintah Provinsi, berdasarkan nilai absensi guru. Dari semula sistem absensi menggunakan fingerprint, kemudian diminta berubah menjadi tanda tangan basah untuk tiga bulan terakhir. Dan ditindaklanjuti pihak sekolah yang didasarkan pada fingerprint. Namun dalam kenyataanya, ada guru yang memiliki jumlah ketidakhadiran (alfa) serta hanya satu kali absen (A1) dari keharusan dua kali absensi dalam sehari.

Permasalahan inilah yang kemudian melebar, dan berujung protes terhadapnya. Sebab, jika ada absensi yang tidak lengkap, akan turut berpengaruh pada jumlah tunjangan yang diterima oleh guru bersangkutan.

“Saya sudah jelaskan kepada yang bersangkutan, tapi sepertinya tidak terima. Dan sepertinya berupaya mengajak guru lain yang tidak terkait hal tersebut untuk memprotes saya. Padahal saya hanya menjalankan aturan,” ujar Kasman.

Dikatakan Kasman, bahkan ia sempat diusir oleh para guru yang kala itu tengah menggelar rapat bersama, saat ia ingin memberikan penjelasan terkait absensi yang disoal tersebut. Sementara terkait absensinya sendiri, Kasman menjamin ia tidak akan mengalami keterlambatan, jika tidak ada urusan diluar sekolah yang harus terlebih dulu diselesaikannya.

“Saya terlambat absen pun bisa dihitung dengan jari, itupun karena ada urusan lain diluar sekolah terlebih dulu sebelum saya ke sekolah,” tambahnya.

Dilanjutkan Kasman, terkait kewajiban mengajar selama enam jam setiap minggu yang turut disoal, tak dipungkiri Kasman terjadi. Ia mengaku kadang terpaksa meninggalkan kewajiban mengajar tersebut, dikarenakan ada urusan lain yang mendesak untuk kepentingan sekolah yang tidak bisa ditunda. Sehingga mau tidak mau, ia meminta guru lain untuk menggantikan sementara.

“Saya tidak murni meninggalkan, tapi terkadang saat ada rapat di Bontang Lestari, atau saya dipanggil atasan di Dinas, dan lain sebagainya. Makanya kewajiban enam jam seminggu terkadang saya minta gantikan guru lain. Sebab waktunya berbenturan, satu sisi saya harus menjalankan sebagai guru, satu sisi saya sebagai kepala sekolah yang harus bertanggungjawab disini (SMKN1),” terangnya.

Baca Juga: Puluhan Guru SMK Negeri 1 Layangkan Mosi Tak Percaya Pada Kepala Sekolah

Sementara terkait anggaran yang dianggap tidak transparansi menurutnya juga berbeda dengan kondisi yang sebenarnya. Dimana ia kerap melaporkan kondisi keuangan sekolah ketika rapat bersama para guru. Kasman pun mengaku siap buka-bukaan terkait anggaran yang dialokasikan bagi SMK Negeri 1, jika memang hal tersebut disangsikan para guru.

Bahkan mengenai sikapnya yang terkesan arogan Kasman pun balik mempertanyakan hal tersebut. Sebab, menurutnya selama ini ia selalu memperlakukan orang dengan baik, dan tak pernah berlaku kasar.

“Itu yang saya heran, saya malah dinilai arogan. Dimananya arogan, saya biasa-biasa aja. Dan terkait anggaran, saya siap membuka semua anggaran yang disoal, kalau memang dianggap tidak transparan,” imbuhnya.

Kasman pun tidak banyak berkomentar terkait keinginan para guru yang meminta agar dirinya dicopot sebagai kepala sekolah. Ia hanya bisa menunggu keputusan Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim terkait permasalahan ini. Sekaligus memastikan kegiatan belajar mengajar tidak terganggu akibat permasalahan ini. Mengingat persiapan Ujian Nasional SMK Negeri 1 Bontang sudah diambang pintu. (*)

 

Laporan: Yulianti Basri

Click to comment
To Top