Sugeng, salah satu pelanggan PDAM Tirta Taman (Foto: Mansur)
Topik

Biasa Bayar 300 Ribu, Sugeng Kaget Tagihan PDAM Jadi Satu Juta

Bontang. Terhitung mulai 1 Mei 2017, PDAM Tirta Taman Bontang mulai berlakukan penyesuaian tarif dasar air bagi pelanggan. Namun kenaikan harga ini membuat sejumlah pelanggan kecewa, karena merasa belum pernah mendapat sosialisasi tentang hal tersebut.

Terlebih dengan kondisi perekonomian yang tengah lesu, kenaikan tarif air semestinya bisa ditunda PDAM dan Pemerintah. Apalagi bersamaan dengan dicabutnya subsidi listrik 900 VA oleh Pemerintah Pusat.

Dari pantauan tim liputan Pktv Bontang di loket pembayaran air PDAM Tirta Taman, sejumlah pelanggan terpaksa pulang setelah mengetahui lonjakan tagihan yang jauh diatas perkiraan mereka, karena tak membawa uang sebanyak tagihan yang tertera.

“Ini habis satu juta mas, biasanya cuma 300 ribuan. Masa kayak gini sekarang? Nggak masuk akal,” ungkap Sugeng, salah satu pelanggan PDAM kepada Pktv Bontang.

Dikatakannya, seharusnya rencana kenaikan ini diberitahukan terlebih dulu oleh PDAM melalui sosialisasi ke Kelurahan ataupun RT, sehingga masyarakat tidak kaget dan lebih paham persentase kenaikan tarif yang dimaksudkan. Apalagi dengan jumlah yang dibayarnya, dinilai sangat tidak wajar. Mengingat volume pemakaian air setiap bulan yang hampir sama.

“Kita kan banyak yang nggak tahu berapa kenaikan harganya. Harusnya sosialisasi dulu secara merata. Ini saya kira kenaikannya wajar aja, ternyata diluar perkiraan,” tambahnya.

Baca Juga: Tagihan Dinilai Tak Wajar, Ini Kata Direktur PDAM

Tak hanya Sugeng, penolakan kenaikan tarif PDAM pun banyak disuarakan masyarakat melalui laman media sosial. Tak sedikit postingan maupun komentar masyarakat yang sangat menyayangkan kenaikan tarif air dilakukan pemerintah melalui PDAM. Mengingat kondisi perekonomian di Kota Bontang yang makin memprihatinkan.

“Kenaikan Tarif Dasar Air Minum di Kota Bontang membuat masyarakat Bontang menjerit, ditengah kelesuan ekonomi, PHK dimana mana yang menyebabkan meningkatnya angka pengangguran, belum lagi adanya pencabutan subsidi listrik 900 VA untuk kalangan rumah tangga, tidak stabilnya harga komoditas bahan pangan semakin membuat runyam perekonomian masyarakat kecil.
Disaat kondisi seperti ini semestinya pemerintah menjadi peka, kenaikan tarif dasar air minum PDAM dirasa kurang tepat ditengah kondisi perekonomian yang lesu. Apalagi kenaikan tarif tersebut berimbas langsung terhadap masyarakat rumah tangga yang berpenghasilan rendah.
Yang menjadi pertanyaan dimana sensifitas dan kepekaan pemerintah sehingga harus membuat kebijakan yang membuat rakyat kecil yang tidak mampu menjadi menderita dan berteriak menjerit karena merasa tercekik dengan kebijakan yang dibuatnya,” tulis akun Syahril Al Arkan di halaman Facebooknya.(*)

 

Laporan: Mansur